Monday, August 3, 2009

memulai lagi sesuatu yang sudah lama ditinggalkan kok susah banget yah

mememulai lagi = mencari siapa yang mulai karatan, obyek apa subyeknya. Aku kira mungkin subyeknya. Kalo obyeknya mah siap kapanpun dipakai. Buku,mulai yang penting sampai yang gak penting, tersedia. Tapi gak ada yang dibaca.Percuma.
Nulis, nulis, Kenapa harus jadi aku yang susah, yang mo nerbitin buku siapa, yang ribet siapa, huhuhuhuhu. haruskah ini dilakukan.

Wednesday, March 4, 2009

gone

Perasaanku sekarang seharusnya berbunga-bunga, setelah menghadiri kleine fest di sebuah café kecil di bilangan Benzoe Straβe, melihat apapun yang ingin kulihat dari tubuh laki-laki, I mean semuanya, dan tidak ada orang yang ketinggalan untuk tertawa, semua gembira, sambil terus menuang, mencecap, dan kemudian menenggaknya habis, segera meminta lagi gelas kedua. Jerman, a place where you can find fun.

Begitu terbuka, begitu bebas, begitu jelas untuk dilihat, dinikmati, begitu hangat, malah mungkin panas. Aku beringsut ke sebuah kecil dengan sofa warna kuning setengah lingkaran, tepat ketika semua orang menoleh saat melenguh terlalu keras, sial, pria itu membuka seluruh kain yang menempel di tubuhnya ketika kalah taruhan minum rootwine.

Aku berjalan menjauhi, dan Peter mengikutiku dari belakang.

Aku ingin pulang Piet, tapi kalau kau masih ingin di sini, aku bisa pulang sendiri, bus warna kuning ke Hoffban khan?” aku berkata sambil mengelap peluh, sudah terlalu panas di sini.

Menelengkan kepala, Piet menghela nafas kemudian “ Mengapa, selalu saja meninggalkan pesta di saat akan dimulai, apakah hal tadi menggangumu, come on Hanna, itu hanya lelucon, percayalah, dia hanya korban kalah taruhan, dan pasti dia juga menikmatinya, tidak ada yang disiksa atau dipermalukan malam ini”.

Aku ragu, tapi kemudian kukatakan juga “ Sial Piet, aku bahkan tidak perduli dia adalah korban atau dia menikmatinya, yang jelas adalah aku tidak terbiasa melihat tubuh laki-laki dewasa se-vulgar itu, I’ve told you Piet, ini keterlaluan” aku mendengus, kehausan”.

“Kau bahkan belum menyentuh satu gelas pun, ayolah Hanna, kau hanya akan menyesalinya, owh hear, pestanya akan dimulai” Piet menggamit tanganku, kudengar gelegar music menghentak, seluruh ruangan langsung bertambah panas berkali-kali lipat dari sebelumnya, aku tertatih mengikuti langkah Piet yang panjang dan cepat, bau kepulan asap rokok langsung menyerang hidungku, sial, aku mengumpat dalam hati, kepalaku sakit, dan telingaku seperti baru saja ditusuk ujung lancip pensil kantor yang baru saja diraut.

Piet merangkulku dengan satu tangan, aku terjungkal-jungkal disebelahnya, aku terlalu bingung untuk bicara, ini gila, laki-laki tadi, dia hanya mengenakan celana dalamnya sekarang, aku memegangi mulutku dengan telapak tangan yang mulai kebas, mencoba untuk tidak muntah, kupaksakan menelas ludahku berkali-kali. Kutoleh Piet yang terus bergoyang dan wajahnya yang riang dengan tawanya yang keras. Masih terus memegangi pundakku, memaksaku untuk mengikuti irama musik, memaksaku berkali-kali untuk minum, mengingatkan aku bahwa aku bisa mati dehidrasi, mencoba menolong untuk membuatku sedikit-demi-sedikit terbiasa dengan keadaan ini, aku mulai mual.

Kali ini, aku benar-benar mual, aku teringat Papa dan Mama, mereka pasti akan gantung diri jika tahu aku melakukan ini di Jerman, mereka akan menghentikan seluruh supply uang dan aku akan resmi jatuh miskin. Owh, aku mendengus lagi, dan dengan kepala yang bertambah pusing, hidung yang tak mampu menghirup oksigen bercampur racun nikotin, dan telingaku yang harus dibawa ke dokter besok karena sekarang sudah terasa sakit sekali, aku melepaskan tangan Piet dari pundakku. Piet menolehku, tampak putus asa, aku menepuk tangannya, tanda ‘aku harus pergi’, dan dia mengangguk pasrah pada akhirnya.

Aku keluar dari café itu, dan cepat-cepat menghirup sebanyak mungkin yang paru-paru dan hidungku mampu, mengucek mataku yang pedih parah, menggosok kedua telingaku dengan telapak tangan yang berkeringat, aku berjalan menyusuri jalan setapak, music dari dalam café masih terdengar samar, ketika aku melihat dua orang, yang satu laki-kali kira-kira berusia 35 tahunan, memakai kaus turtle neck berwarna coklat muda, rambutnya dipotong cepak, dengan jenggot tipis, dan barisan giginya yang sempuna, dia tersenyum setiap kali wanita dihadapannya bercerita. Wanita itu, berambut coklat tua, memakai setelan warna hijau toska dengan bagian dada yang rendah, kalung mutiara menggayut anggun di lehernya yang indah, dia tengah bercerita dengan antusias sambil sesekali menarik tubuhnya ketika tertawa, dan mencodongkannya lagi saat bercerita, membuat laki-laki itu harus membetulkan posisi celananya setiap kali wanita itu mencondongkan tubuhnya ke meja, hingga kalung mutiaranya mengetuk-ketuk meja.

Mereka tengah bahagia, dan jika mereka sedang berpacaran, laki-laki itu akan melamarnya segera, jika mereka sudah menikah, pertemuan kali ini akan berakhir di tempat tidur, meskipun di sini, tidak perduli apapun statusmu, jika kau menyukai lawan jenismu dan dia juka menyukaimu, kalian akan berakhir di tempat tidur dan itu sudah biasa. Mulai terbiasa dengan erangan dan desahan di kamar sebelah kondo-ku, membuatku nekat membeli seperangkat head-phone mahal bermerek, yang menjanjikan ketenangan pribadi, membuatmu tuli seketika, benar-benar kedap suara, kau bisa menyetel music kesukaanmu keras-keras, dan tidak akan mendengar apapun. Menyesal, ketika kau tidak akan bisa tidur, di malam pertama kau menginap di kamarku, semalaman kau akan mendengar suara laki-laki dan wanita mendesah dan sesekali nafas mereka terdengar terlalu keras, derit tempat tidur mereka, dan beberapa dari mereka akan meninggalkan kamar kondo di pagi harinya dengan masih terus berciuman sampai di depan lift. Matamu akan bengkak, karena kau tidak akan pernah bisa mengajaknya terlelap, dan terus menguap di kelas bukan hal yang baik, karena hari pertamaku di College, aku terus menguap dan I’ve told you, tidak ada satupun materi kuliah yang masuk ke otakku, sial.

Aku menepuk-nepuk kepalaku, wake-up, kusadari kakiku sudah beku berdiri kesemutan di tengah jalan, tapi akui masih di sini, melihat orang-orang yang dimabuk cinta itu putus asa. Bahkan ketika sudah kuhabiskan 5 bulanku di Jerman, tidak ada laki-laki yang bisa membuatku bergetar, maksudku benar-benar bergetar, seperti untuk pertama kali aku memeluk Ueda di Eagle Spot. Mungkin lain kali, aku harus memeluk setiap laki-kali di Jerman mulai saat ini satu-per-satu agar bisa tahu dengan siapa di antara mereka akhirnya aku bisa bergetar, maksudku benar-benar bergetar, yah you know ey?.

Meneruskan langkah, aku tahu aku tengah memutuskan bahwa malam ini akan jadi malam terakhir aku menerima ajakan Peter untuk datang ke sebuah acara, yang dia sebut “pesta”, ini benar-benar konyol.

Mengambil handphoneku, memasang ear-phone di kedua belah telingaku yang sedikit kebas, aku memutar Matsuri, bukan hal baru, ini instrumental karya Kitaro, musisi terkenal di Jepang, atau mungkin di dunia, everybody know who is he, tapi bukan hanya itu.

Hari itu, di Tokyo, di buah gedung teater kabuki, ada pesta genderang, aku, Diandra, Sasti, Noel, Jason dan tentu saja sang tuan rumah Ueda, menuju ke gedung teater itu untuk merayakan usia tujuh belas tahun kami. Kami duduk di kursi ketiga dari depan, kami bisa melihat saat Matsuri mulai dimainkan, seluruh ruangan langsung berdecak, bulu kudukku langsung meremang, musik itu membuat kami saling menoleh, tersenyum, tidak percaya dengan yang kami dengar, sebelum semua itu berakhir, muncul beberapa laki-laki berpakaian tradisional menari dengan gagah, melompat sambil membawa genderang kecil di masing-masing pinggang mereka, bergerak maju-mundur sambil terus memperagakan memukul genderang itu dengan antusiasme yang tertata dengan anggunnya.

Mereka, para penari itu membuat kami tertegun, mereka memiliki kekuatan yang dapat ku rasakan dengan langsung di setiap detik mereka memukul genderang kecil mereka dan mengakhiri tarian itu dengan teriakan membahana, sedetik kemudian terdengar mereka mundur teratur seiring irama genderang besar dan suara paduan suara membelai kami hingga saat paling klimaks, dan berakhir dengan damai.

Kupeluk tubuhku sendiri, masih merinding membayangkan malam itu hingga saat ini, dan mengingat sahabat-sahabatku, semuanya, pada malam itu. Semakin dingin, aku menaiki bus terakhir menuju banhoff, masih terus memutar memori tentang kejadian 5 tahun lalu, masih juga kuingat dengan jelas ekspresi masing-masing dari mereka, dan Ueda yang terdiam di kursinya, dan dia tampak sangat tidak menikmati pertunjukan itu, dia menunduk, masih muram, aneh, kuingat aku menepuk pundaknya, tersenyum, dia mendongak dan tanpa menolehku dia menatap para penari itu, kulihat cahaya lampu panggung berkilat-kilat di matanya.

Kusodorkan lima buah permen nanas Kasugai, dia tidak menanggapinya, masih terdiam, tapi aku tetap bersikeras, kuketuk-ketuk pundaknya, dia tetap tidak menoleh, dingin. Kucondongkan tubuhku dan melonggok melihat wajahnya dari depan, dia beringsut, mundur, wajahnya kaku. Dengan cepat menyambar sebutir permen nanas Kasugai itu dari tanganku, dan kembali serius menunduk.

Aku berbisik “eat it, aku tahu mungkin kau sudah bosan, tapi percayalah yang ini enak sekali” , dia tidak menoleh pun membuat gerakan.

“you would ask more for couple second ey?” aku menyodok lengannya dengan sikuku.Ueda hanya terdiam, dan begitulah dia, aku, atau kami, berlima tidak pernah heran dengan tingkah Ueda, selalu muram, selalu diam, selalu sendiri, selalu sepi dan selalu hampa. Hanya mendengar dan memperhatikan saat yang saling berbicara, hanya melihat apa yang ingin dia lihat, hanya bangun pada waktu yang dia tentukan sendiri, hanya membaca dan mendengarkan apa yang dia anggap menarik, dan hanya makan apa yang dia anggap enak, selebihnya, jangan pernah berharap melihatnya melakukan apa yang kau ingin dia untuk lakukan, karena dia hanya akan membuatmu sakit hati parah.

Saat ini, dia menerima tawaranku untuk mengambil permen Kasugai dari tanganku, dan kau tahu seharusnya aku masuk Guiness Book of Record dan dapat hadiah Noble.

Aku meringis mengingatnya, sudah sampai Bahnhoff ketika kulepas ear-phone tepat pada saat lagu Bad English terputar. Berjalan beberapa blok untuk sampai di kondoku, aku mengambil beberapa receh, memasukkannya ke mesin minuman ringan, sekaleng coke, bisa mengantarkanku tidur tenang malam ini.

Menaiki tangga kondo, berpapasan dengan seorang laki-laki dengan senyum mengembang di wajahnya berteriak terlalu riang ‘gutten nacht Frau’. Lift, tepat pukul 00.32, tak banyak orang lalu lalang, ini sudah larut aku berpikir dalam hati, bertaruh seseorang tengah berciuman di pojokan, aku melangkah dengan enggan, kakiku rasanya mati rasa, lelah teramat sangat. Mengeluarkan kunci dari dalam tas, memasukkan ke lubang kunci pintu kamarku, kubuka kamar pengap itu, menyalakan kipas angin, membuka jendela dan menyalakan lampu, kaget dengan apa yang terhampar di depanku, dan terakhir yang bisa kulihat dan kurasakan hanyalah seluruh tubuhku serasa berat hingga aku menyerah untuk limbung dan jatuh memukul lantai.

“bloody hell” aku mengerang, memegangi kepalaku yang masih sakit, berusaha bangkit dengan tubuhku yang pegal-pegal parah.Sebelum mataku terbuka sepenuhnya, kuharap apapun yang membuatku tidak sadarkan diri tadi adalah mimpi. You gonna die, aku melihat Ueda duduk di kamarku, di depan meja belajarku, dan aku bersumpah dia sungguh nyata, dan kau tidak akan pernah mempercayainya. Dia menolehku, tersenyum, bangkit dan kaget saat kusadar tubuhku limbung, mungkin pada saat itu jantungku meminta absen untuk berdetak saking kagetnya, otakku terpaksa bolos karena terlalu keras berpikir membedakan apakah ini mimpi atau kenyataan, dan kemungkinan aku sudah gila, tidak waras. Ketika mataku terbuka, dan berusaha mengerjap berkali-kali sekuat tenaga, kucari tangan kananku, tapi Ueda tengah menggenggam jemariku dengan kuat, aku hanya bisa membuka mulutku tanpa suara, membelalakkan mata, dan tanpa sadar menepuk kepalaku dengan keras, dan aku mengerang, sial, sakit sekali, telingaku langsung berdenging.Ueda menatapku was-was, dia juga tak bersuara, kami terdiam dalam kegalauan yang membingungkan, bingung akan apa yang terjadi, melihat Ueda, dan Ueda melihatku, saling menatap untuk beberapa saat, semua begitu detil, semua begitu tampak seperti mimpi untuk kau anggap sebagai kenyataan, apakah semua akan baik-baik saja, aku ingin berteriak agar seseorang membangunkanku, bahkan dalam mimpi pukulan di kepalaku pun tampak nyata dan nyeri.

Tunggu beberapa saat lagi, dan dia akan lenyap, buff, menjadi kepulan asap putih dan menghilang. Dia hanya ada otakku yang sudah sakit parah, atau karena aku hanya terlalu menginginkannya.

Tapi percayalah ini nyata, begitu nyatanya sehingga kau percaya aku akan makan kotoran ayam untuk membuktikan ini semua. Kugerakkan tangan kiriku yang bebas pada akhirnya, menyentuh wajah Ueda yang masih terdiam kaku, kurasakan benar rambutnya di ujung jariku, dan ketika jariku akan merambah wajahnya yang pucat dan tampak lelah, jantungku berdetak sangat cepat berpacu dengan nafasku yang semakin habis, kurasakan sesuatu menarikku tiba-tiba, begitu kuat, begitu menyakitkan, tertarik jauh lebih dalam kegelapan yang nyata, kegelapan yang memaksamu terpejam, yang membuatmu berhenti bernafas, dan kau akan seperti dipaksa untuk menyerah dan menyerahkan segala yang kau punya, seperti ketika kau sadar bahwa orangtuamu merengang nyawa dan kau tidak bisa melakukan apa-apa, hanya terlempar pasrah dalam kekecewaan yang tak bisa kau ungkapkan. Seperti ketika kau merindukan seseorang teramat sangat tetapi kau tak mampu mengungkapkannya, terpisah di antara dua jurang yang terlalu dalam, laut yang terlalu luas untuk kau berenang, gunung yang terlalu tinggi untuk kau kaudaki, ditengah ketidakmampuan itu, tiba-tiba kau sedih dan kehilangan arah, tertarik lebih dalam dalam lubang hitam, dan ketika kau sadar, aku hanya berdiri di sebuah padang gersang, sendiri.

Terengah, bangun dari posisi tidur yang tidak nyaman, merasakan dingin menyentuh kulit, membuka mata dengan berat, yang ku tahu aku tergeletak di lantai semalaman, bingung, aku memeluk tasku, masih di tempat yang sama, dengan hati yang teriris sedemikian sakit, meringkuk dalam dinginnya pagi, mengharap seseorang yang tidak akan kau miliki benar-benar akan datang, menyadari bahwa tangan kananmu tidak bisa bergerak karena tertindih tubuhmu sendiri, aku menangis, terisak berat.

Mungkin seumur hidupku aku tidak akan pernah bertemu dengan Ueda, tapi ketika dengan memikirkannya, dia akan hadir, dengan cara apapun yang dipilihkan Tuhan untuk menghadirkannya, aku akan terima dengan sisa air mata yang aku punya. Andai saja Ueda tahu, bahwa di sini aku berjuang dengan keras untuk mengumpulkan keberanian, menemuinya hingga saat itu tiba.

Sunday, November 2, 2008

namaku Hanna Hakim, 22 tahun sekarang, setelah lulus dari sekolah tinggi fotografi di Turki aku berencana meneruskan sekolah teknik fotografi di Jerman, aku memiliki enam orang teman baik, sahabat yang kutemukan dalam perjalanan hidupku, yang kukira akan menjadi teman sepanjang masa dan kuyakin mereka tidak akan pergi, menjauh bahkan membenci, ueda, sasti, jason, diandra, noel dan yang sudah kukenal lama tapi baru mulai dekat, dirga. Sampai saat kutulis ini, hubungan kami sudah tak seperti yang dibayangkan lagi. Ueda yang entah karena kesalahan siapa, menjauh dan bahkan mungkin sudah sebegitu membenciku sekarang, sasti aku tidak tau kabar terakhirnya, diandra berada bersamaku di apartemennya di Jerman, dirga menjaga sasti seperti tugas yang diamanatkan kepadanya, jason entah mencari wanita di mana lagi untuk dikencani atau sekadar dia ingin menyebar penyakit kelaminnya. Noel menurut email terakhir yang kuterima darinya, dia meneruskan kuliah di tempat asalnya italia utara. Dan aku, sendiri, meneliti kesepian dan sesegera mungkin dikeluarkan dari kampus karena terlalu banyak melamun.
mempersiapkan diri untuk ujian tengah semester besok, menggosok mata yang semakin pedas, dan berjanji pada blog untuk ditulis tulisi lagi besok, aku menutup mata.

Thursday, September 25, 2008

lie is a lie even the white ones. Sooner or later it will hurting.
Aku ingat saat aku dan Ueda berdebat masalah agama. Ueda tak beragama, di hanya percaya ada roh suci yang mengontrol jagad raya, seperti teman, seperti manusia yang nyata. Sedangkan agamaku, moslem, aku percaya Allah swt, tak dapat didefinisikan sebagai manusia ataupun benda. Dia ada di mana-mana. Tuhanku ada di mana-mana, hidup dalam pikiran, dalam darah, dalam setiap nafas, kataku waktu itu pada Ueda.
Kata Ueda, kalau dia melakukan sesuatu hal yang baik, Tuhan akan memberinya pahala, dan membalas kebaikannya dengan hal-hal baik. Misalnya dia menolong orang tua menyeberang jalan, suatu ketika saat dia kesulitan, dia akan menagih Tuhan atas kebaikannya itu.
Aku bertanya, mengapakah manusia menjadi pamrih pada Tuhan. Jikalau tidak ada pahala dan surga, apakah manusia tetap berdoa dan melakukan kebaikan.
Ueda menjawab dengan tersenyum, dirinya berpengertian bahwa Tuhan menyediakan semacam reward untuk kita, dan kita bisa mencairkan reward itu pada saat kita menghadapi kesulitan.
Pengertianku sungguh berbeda, kukatakan padanya, justru kita yang seharusnya membalas kebaikan Tuhan, setiap pagi Tuhan yang membiarkan mata kita kembali terbuka, membiarkan hidup kita menghirup udara segar, membiarkan kita makan makanan yang penuh berkah, dan memberi kita kesehatan agar terus bisa beribadah dan mengingatNya.
Ueda mengerutkan alis.
Aku tersenyum padanya.
Dia membuka mulut dan bertanya, apakah Tuhanmu juga mengizinkan manusia untuk berbohong. Aku menjawab cepat, tentu tidak.
Ueda menoleh, dan berkata dengan lirih. Aku benci padamu, mungkin itu satu-satunya jalan agar persahabatan kita tetap terjaga.
Aku heran. Apa maksud perkataanmu. Aku memegang pundaknya, seakan mencoba memaksa Ueda untuk meralat apa yang baru saja dia katakan.
Ueda menunduk kembali, kamu bohong katanya.
Aku kaget mendengarnya. Apa maksudmu Ueda, aku sungguh tak mengerti.
Tuhan baru saja membiarkanku berbohong, katanya.
Berbohong apa, aku mendesaknya untuk bicara.
Aku baru saja melakukan white lies, apakah Tuhan mengizinkan white lies, dia kembali bertanya padaku.
menatapku lekat, bohong tetaplah bohong Hanna, meskipun yang putih sekalipun. Tuhan tak pernah melarang manusia untuk berbohong, Dia membiarkan kita melakukannya. Membuat kita sakit atas apa yang kita lakukan.
Aku memegang tangannya, mencoba tegar dengan kata-kata terakhirnya, Ueda Tuhan memang membiarkan kita berbohong, bahkan seakan jika kau lihat Tuhan membiarkan kita membubuh saudara kita, memperkosa wanita lain, berselingkuh, curang dan perbuatan yang buruk lainnya. Tapi harus kau tahu Ueda, Tuhan sudah punya rencana, bahkan sebelum kita ada, rencana itu sudah dipersiapkan, bahwa Tuhan memberikan semua keburukan sebagai ujian untuk kita manusia, agar selalu mengingatnya, untuk selalu dekat dengannya. Keburukan itu bisa kita hindari Ueda. Mungkin bisa kuralat, keburukan itu ada, Tuhan menyediakan agama untuk menjadi jembatan menghindari segala keburukan itu. Keburukan itu pilihan Ueda, bukan keharusan.
Ueda terdiam, dan berkata, tapi Tuhan baru saja membiarkanku berbohong, kau tau maksudku.
Kau bisa memilih untuk tidak berbohong Ueda.Aku meneruskan, mencoba bersabar.
Tuhan tidak meninggalkan pilihan untukku Hanna, tidak ada pilihan selain berbohong. Ueda tertunduk.
Aku menyibakkan gerai-gerai rambut di wajahnya, lantas mengapa harus berbohong Ueda.
Karena aku harus Hanna, harus, aku tak bisa membiarkanmu dan yang lain tahu, bahwa aku... . Terhenti, kemudian Ueda kembali terdiam.
Bahwa kau apa. Aku menatapnya penuh tanda tanya.
Bahwa aku baru saja berbohong, dan aku bersyukur, Tuhan tahu aku berbohong, tapi membiarkanku melakukannya. Ueda beranjak dan kemudian berjalan menjauh.
terbangun dengan cecap keringat yang membasahi mukaku. Menelesak jauh di dalam hati, Ueda berbohong pada semuanya demi aku dan kebaikanku. White lies. Apalah gunanya orang harus bersusah payah berbohong demi sebuah kebaikan bagi orang lain.Aku tak mengerti.

Tuesday, September 16, 2008

aku kecewa padanya

aku mencoba memberanikan diri mem-buzz nya saat kulihat Ueda online. BUZZ. Tidak ada jawaban. Tiba-tiba aku merasa malu pada diriku sendiri. Sebegitu inginnya aku menghubunginya, setelah kutinggalkan dia sendiri. Aku tidak mengerti. Hasrat ku untuk mengetahui keadaannya memuncak sedemikian besar. Semakin keras aku berusaha untuk menikmati Jerman semakin sakit hatiku menahan keinginanku untuk mendengar dia berkata "mossi-mossi" di telepon dan memBUZZ account YM ku, mengajakku mulai membicarakan sesuatu.
PENCIL_CASE invite you as friend.
pencil_case, siapa pencil_case, aku bertanya dalam hati. Add as friends.
kuketik "Hai" dan dia sama sekali tidak menjawab.
kuketik lagi "yasudah" tetap tidak ada jawaban.
kututup chat room kami. jerman_rookies dan pencil_case.
semenit kemudian, BUZZ dari pencil_case.
kuketik "siapa ini".
pencil_case is typing message.
"hai"
kujawab "hai"
masih tetap menunggu.
"hanna?"
wew teman lama rupanya, hatiku gembira sekali, berada di tempat jauh seperti ini, mendapati ada seorang teman yang ingat padamu sungguh kenyataan yang sangat menggembirakan.
"iya, maaf ini siapa yah?"
"where r u now?"
kujawab "sorry, but who is it?"
"its me"
"who?"
"you dont recognize me?"
"sure i dont"
"try to guess"
"i dont like guessing"
"view my web cam"
"no way, before you mention your name"
"it is important for you?"
"yes"
"try to view my cam"
"no way"
"ok I close the room now, is like I dont need to get to know you"
"hey where you know my name?"
"i knew you"
"who are you?"
"it's me hanna"
"who?"
"Dirga, gotcha!!!"
"sinting"

Sunday, September 14, 2008

waduh...hari ini Divisiku kena marah pak Pinwil lagi

siapa suruh punya alat taun jebot gitu. Kita dah yang disalahin. Pas udah pengumuman teriak-teriak ga ada denger, pas di benerin bunyi grebek2 kedengeran Gubrek-gubrek pas volumenyah keras secara ajaib dan sampailah dengan selamat senatusa ke ruang Pinwil.
Jadilah manajerku di cerewetin sampai mampus. hahahhahahah. Untungnya manajerku ga marah ke aku (baca:biang kerok masalah ini) . huff...
besok harus tulis otorisasi ke Logistik untuk pengadaan alat baru, gila ajah kalo setiap mo pengumuman microphonenyah kudu grebek2 dulu bisa lama2 dipecat.
ya ampun nasib2...
susahnya cari uang.

Monday, September 8, 2008

koibito yo

Ueda, ayo kita adu kekuatan. Siapa yang paling kuat, dia yang menang. Si pemenang bisa tertawa di akhir acara kita. Bisa mengejek sepuas hati kepada si kalah. Kita ini sekarang sedang bertarung, siapa yang paling kuat menahan perasaan, dia yang menang.
Aku menang Ueda, aku menang, kamu yang pertama mengisyaratkan rasa itu padaku. Dan itu berarti kamu kalah. Kalah beberapa langkah dari aku.
Dan aku menang, menang karena aku tidak akan dimusuhi sahabat-sahabat kita. Menang karena aku pintar menyembunyikan perasaanku, aku memenangkan semuanya, sahabat, rasa percaya, keluargaku, kuliahku, cita-citaku, dan kamu Ueda. Aku memenangkan pertandingan dalam diam kita.
Tapi hatiku terasa sakit ketika aku merasa bahwa aku menang atas segalanya. Tapi mataku basah saat merasa aku memiliki segalanya, kecuali kejujuran dan keberanian untuk mengungkapkan sesuatu.
Sakit diri ini saat menyadari bahwa rasa terkadang sulit untuk dikatakan. Terlalu berat untuk diberikan. Aku dan segala pertimbanganku, aku dan segala gengsiku, aku dan segala kekuranganku, dan ketidakjujuran ini walau sebenarnya aku memendam perasaan ini sampai dadaku hampir meledak setiap kali bertemu dengannya.
"wake up !!!" aku tersontak kaget, terbangun dengan rasa pegal yang sebegitu parah di tangan. Aku melihat Diandra yang tersenyum di sebelahku.
"menulis blog sampai malam lagi?" Diandra mengeryit tampak tak senang.
"eh iyah" sialan aku ketiduran dan lupa menutup halaman blog ku.
"masih menulis tentang Ueda lagi?" Diandra menarik nafas berat.
Aku dengan cepat men klik tanda silang merah di pojok kanan atas layar komputer. Dan halaman itu lenyap.
"Tidak perlu seperti itu Na, aku sudah baca semuanya, tulisan terbarumu yang mati2an kamu lock privat agar kami tak bisa membacanya, KOIBITO YO, hahahhahah itu Ueda khan, kamu mencintainya dan ohhh.... jangan bersikap seperti itu" Diandra melenguh melihat wajahku yang berubah pucat secara tiba-tiba.
"You have my mouth seal for this" Diandra tersenyum dan pergi, menoleh ketika sampai ke pintu kamarku "have a nice dream Hana", meninggalkan aku yang diliputi rasa takut yang teramat dalam, sanggupkah aku jauh dari Sasti, Jason, Noel dan Diandra, ataukah memang sebegini beratnya hanya untuk berusaha jujur bahwa kita mencintai seseorang yang tidak boleh kita cintai. Sanggupkah aku dekat dengan yang seseorang sedangkan yang lain tidak.

Tuesday, August 26, 2008

tiket itu ternyata ....

Perjalanan menuju apartemen. Taxi.
Di dalam perjalanan ini, baru kali ini aku merasa sangat tidak tertarik, sepi mulai terasa di dada, dan akupun teringat sebuah buku agenda besar dengan sampul rajutan warna kuning mentah. Ada sekitar tujuh foto keluargaku di sana, foto itu terakhir kali kumasukkan 2 bulan yang lalu seingatku, dan aku tak pernah memeriksanya lagi, yah mungkin terlalu sibuk dengan ujian masuk universitas dan berbincang hangat dengan Ueda. Perasaanku merebak, mengambilnya keluar dari dalam tas jinjing besar dan menemukan sesuatu.
Tiket ke Jermanku. Aku berteriak dalam hati. Gila, aku menyusahkan orangtuaku untuk membeli tiket lagi hanya untuk ingatanku yang parah.
Aku mengambilnya keluar dari dalam buku agenda. Melihatnya dengan pasrah. Gila...ini gila. Aku menuduh Ueda mengambilnya, Hah...ini sungguh gila. Aku menuduh sahabatku sendiri mencuri. Duh...aku menepuk dahiku. Dia pasti terpukul, dan orang yang memukulnya itu aku. Tapi untuk apa kemudian aku memikirkan perasaannya, sedangkan perasaanku sendiri tengah remuk sekarang. Well...the show must go on. Paling tidak itu menurutku.

move to Germany (Christina Aquilera-Hurt)

“eat this!” Sasti menyorongkan sebuah buku catatan bersampul hitam bertuliskan -for Shasty- itu kepada Noel yang langsung melongo memandang Sasti yang berlalu sembari mengomel.
Noel mengejarnya, dan Sasti berteriak “stay where you are Noel, or I’ll send you to jail” Sasti memang selalu seperti itu, mengancam setiap orang dengan akan mengirimnya ke penjara, wonder why.
Sasti berteriak saat Noel mendekatinya lagi. “you, slave, if Jason really loves me, send him over, and once again…” Sasti berpaling lagi ke arah Noel dan meneruskan berteriak, “and…teach Jason how to spell my name” Sasti menghentakkan kakinya dan pergi sambil terus melirik Jason, marah.
Aku melihat Jason cekikikan melihat Noel diomeli habis-habisan oleh Sasti, Jason memang seperti itu, seorang oportunis, tidak mau susah dan selalu Noel yang mati-matian jadi kacungnya, demi yah…demi untuk bisa mendapatkan akses lebih mengenal gadis-gadis dan mengencaninya dalam gelap. Dua meter di dekat Jason ada Ueda yang duduk santai melihat ke arah lain, terdiam dan tak bergeming. Diandra yang semula berdiri mematung di dekatku berlari menggandengku mengejar Sasti.
Diandra, aku sudah mengetahui kalau dia menyukai Sasti sejak kami bertiga lulus sekolah dasar di Turki, kami bertiga dilahirkan dari keluarga berkebangsaan Indonesia, selain Sasti yang ibunya adalah warga negara Norwegia. Kami bertiga berjanji untuk saling menjaga ketika kami bersama di sebuah negara tanpa teman, tanpa harapan untuk mendapatkan sahabat secepat dan sebanyak yang kami harapkan. Kehidupan kami yang selalu berpindah mengharuskan kami cukup puas dengan berkenalan singkat selama paling lama setahun dan kemudian di teruskan dengan saling bertukar alamat elektronik.
Ayahku sendiri adalah seorang dosen lepas sebuah universitas di Turki, menikahi ibuku yang notabene mahasiswanya, dan kemudian hadir aku, yang kemudian resmi didaulat ayah untuk menjadi teman setia ibu dikala ayah harus bertugas ke luar negeri lagi. Menginjak umurku yang ke dua belas, ibu dan ayah mulai mengajakku keluar Turki, dan akhirnya memutuskan untuk menetap di negara kelahiran ayah dan ibu, Indonesia.
Turki, di sanalah akhirnya kami bertiga, aku, diandra dan sasti pada akhirnya memutuskan untuk kembali, meneruskan sekolah menengah atas kami, setelah menghabiskan beberapa tahun lebih banyak di Indonesia untuk menyesuaikan dengan kurikulum sekolah menengah pertama di Indonesia.
Diandra, orang tuanya adalah pengusaha restoran dan toko roti di Turki, kakaknya Dirga sudah fasih berbahasa Turk kala itu, karena lahir dan besar di sana lebih lama, Dirga sudah mengenal Turki lebih baik dari pada dia seharusnya mengenal ibu Negara kebangsaannya, Indonesia.
Sungguh mengurus keperluan imigrasi dan ijin tinggal tidaklah sesulit dan serumit yang orang bayangkan, kami mendapat banyak kemudahan untuk mengurus segala dokumen-dokumen tinggal kami di Turki.
Sasti, orang tuanya adalah pekerja seni, ayah ibunya memiliki galeri seni di tengah kota St.Petersburg, memiliki rumah besar yang mewah, disanalah pada akhirnya kami sering menghabiskan waktu, saling bersumpah untuk saling menjaga dan tetap bersama.
Di sekolah menengah Turki pula kami bertiga berjumpa dengan ketiga yang lain, Jason yang berkewaganegaraan Amerika Serikat, Noel yang berwarganegaraan Irlandia dan terakhir Ueda yang berkebangsaan Jepang. Kami berenam bertemu ketika sama-sama membeli tiket untuk konser Lenny Kravitz di lapangan bundar St.Petersburg.
Lenny Kravitz, menyatukan tujuan menonton konser kami yang ternyata berbeda pada akhirnya. Aku, menonton Kravitz karena single I’ll be waiting, Diandra, yang karena mengantarkan Sasti, Sasti, karena ingin mengoleksi tanda tangan Kravitz, Jason, yang ingin menebar pesona lebih dari pada mr.kravitz sendiri, noel yang karena mendukung kampanye tebar pesona Jason, dan ueda, yang karena kravitz berkebangsaan Rusia.
Kami berenam berteman pada akhir konser, membawa kenangan sendiri-sendiri yang tidak bisa dibagi. Pertemuan kami di hari-hari berikutnya, membuat kami sebuah kelompok yang tidak bisa dipisahkan, yang satu menjadi pelindung yang lain, dan tidak ada yang bertahan untuk yang seorang sedangkan untuk yang lain tidak, sebuah janji yang kami junjung tinggi selayaknya nyawa kami sendiri.
Tak pernah terbayangkan sebelumnya, jika hidup itu sungguh sulit untuk dimengerti, sungguh misteri yang tidak akan bisa diramalkan.
Tak pernah kusangka bahwa Ueda akan menyukaiku dan aku akan selalu bergetar bila di dekatnya. Kelas dua sekolah menengah, saat Ueda mulai untuk pertama kali mengirimkan tulisan “ommoshiroi” di bangku sekolahku, yang hasilnya dia dihukum berdiri di luar kelas selama pelajaran berlangsung hari itu.
Aku tidak pernah memperhatikan Ueda yang selalu tertunduk dan muram, jika diamnya itu untuk semua ini, jika diamnya itu untuk mengumpulkan semua keberanian ini pada akhirnya. Maka aku berdosa besar padanya.
Ke Indonesia hanya untuk memberiku dua tiket ke Jepang di akhir masa tinggalnya, semua percakapan intim itu, semua kedekatan itu, semua senyum untuknya, semua perhatian yang tidak pernah kuberikan pada yang lain, untuk semua telepon dan pesan, untuk pelukan itu, aku memberinya peluang untuk menyukaiku, aku membuka harapan untuknya, untuk membuatnya merasa aku memperhatikannya, membiarkannya mengira aku juga mencintainya, membuatnya yakin bahwa cinta itu ada antara aku dan dirinya. Ohh…Tuhan..aku menutup album foto itu dengan sesal yang melesak sedemikian dalam, aku yang menyakitinya, mengangkatnya dan menjatuhkannya dengan keras di waktu yang sama. Aku dan bukan dia. Jika pun aku juga mencintainya, maka aku terlalu malu untuk mengatakannya, karena Ueda adalah sahabat?, bukan, karena ueda adalah pria pemurung yang tidak ingin melanjutkan kuliahnya, yang tidak ingin kehidupan yang lebih baik, yang dia tahu hanya menghabiskan uang orang tuanya untuk berkeliling dunia, hanya karena aku malu, hanya karena sebuah gengsi aku menyakitinya, dan karena hanya aku tidak ingin yang lain tahu bahwa aku telah bertahan untuk yang satu sedang aku tidak melakukannya untuk yang lain. Ueda aku harap, dimanapun dia saat ini, kuharap dia bisa memaafkan aku, atau setidaknya jika itu terlalu berat, maka cukup dengan merasa benci dan lalu menganggap aku tidak pernah ada di dalam hatinya.

Ueda Tsukishiro, 24 tahun, Mei 2008, Matsuyama, Japan, no clue, then should I find him?.
Coretan untuk sebuah misi sulit, mencari Ueda dan mengatakan aku pun mencintainya.

Aku beranjak, dan kemudian kembali lagi duduk di atas ranjang. Tapi untuk apa, tertunduk, lama sekali aku berpikir. Semua untung rugi aku mencarinya, semua efek yang akan terjadi, jika aku menemukannya pun Ueda tidak akan pernah mau mengenalku lagi. Kuurungkan niat besarku tadi, kuletakkan album foto itu di bagian paling bawah semua tumpukan buku-buku bekasku, mengepaknya dalam sebuah kardus dan menyimpannya di dasar lemari dan menguncinya, last touch, kuncinya akan kubuang di dasar sungai Mainne ketika sampai di Jerman nanti, dalam hati aku berdoa, God help me forget where I put this box down today, and don’t ever shown me even just a little clue which reminds to this one.

Friday, August 22, 2008

sumpah inih kenapa bagian awalnya jadi ga ke -save:(

Boarding room.
Masih bisa kulihat Ibuku melambai sambil membentuk tiga jari tengah menekuk dengan mulut yang bergerak seperti “call, you, call me soon okey” mengucapkan kata terakhir dengan . Aku mengangguk mantab, yah Ibuku pasti orang pertama yang akan aku hubungi setelah aku resmi membeli salah satu nomor provider telekomunikasi di Jerman sana. Ayahku mengacung-acungkan jempolnya, aku sendir tidak begitu mengerti apa maksudnya, yah…kuanggap saja itu “hebat,,anak muda”.

Plane.
Teringat lagu Jason mRaz, aku mencoba menghapus semua kenangan buruk tentang hidup, dan mencoba menjadi brand new me ketika sampai di Jerman. Hah…Jerman dalam impianku, adalah sebuah obsesi. Obsesi untuk menjadi seorang fotografer handal, mencoba mata pencaharian favorit yang sangat tidak disarankan oleh kedua orang tuaku, freelancer. Orang tuaku mungkin kini tengah mengelus dada memikirkan nasibku, masa depanku, dan segala tentangku kelak.

Tertidur untuk sejenak melupakan apapun.

Terbangun untuk mencheck jam dan makan.

Teringat untuk memutar beberapa lagu lewat iPod.

Tertidur lagi tanpa direncanakan.

Terbangun lagi dengan tiba-tiba, kaget karena bermimpi mencium Ueda. Hiiiiiiih, kok bisa-bisanya.

Kembali tertidur.

Terbangun lagi, sialan, bermimpi bersama Ueda lagi.

Mencoba tertidur untuk kesekian kali, dan berusaha keras tidak membahas mimpi barusan dalam diam.

Ueda duduk di sebuah bangku taman, memakai mantel berwarna coklat muda panjang. Dia menguap dan kemudian merebahkan tubuhnya di bangku itu, meletakkan kaki sebelah kanannya di atas lutut sebelah kirinya, mata di bawah riap-riap rambut pelan-pelan menutup. Dia tertidur, pulas. Ada seorang wanita yang menghampirinya, duduk di dekat kakinya, dan menyibak rambut diwajah Ueda dengan rasa kasih yang kelihatannya besar. Mungkin itu pacarnya. Ueda terbangun, dan menguap untuk kesekian kali. Dia duduk di sebelah wanita itu, menyandarkan kepala di pundaknya. Wanita itu mengeluarkan jeruk dari dalam tasnya, dan Ueda mengambilnya, mengupas kulitnya dan memakannya dengan sesekali memandang wanita itu dengan senyum malu-malu. Wanita itu terus melihatnya dengan tatapan kasih yang tidak biasa, tertawa melihat Ueda yang memakan jeruknya dengan cepat dan merajuk untuk meminta Ueda memakan jeruk yang lain sampai habis. Ueda pun terus memakan sampai pipinya menggelembung penuh, kesulitan menutup mulutnya, dia menundukkan kepala, malu.

Aku terbangun karena seorang pramugari mengelus bahuku, membangunkan.
“Kopi?” dia menawarkan dengan ramah.
Kulirik, Tia Wasista, nama pramugari itu.
“Terima kasih mbak Tia” aku mengambil secangkir kopi yang diangsurkannya.
Pramugari itu tersenyum lagi dan pergi.

Menghirup kopi, aku memutuskan bahwa baru saja aku mengalami rentetan mimpi buruk. Mimpi paling buruk yang pernah kualami. Terasa menusuk di dada, sepertinya aku baru saja kehilangan sesuatu dalam hati, tapi apa itu.

Thursday, August 21, 2008


dying just to understand this man :(
well no character has been found perfect, but he is match wiff my Ueda cast, so now...
I'll write him till chapter three...
when Hanna landed in Germany and start her college... Ueda will still the main idea...
so still getting harder of working his attitude, impact and feeling. So hard ...eh.

James Blunt – You’re Beautiful

Mengetuk pintu apartemen Ueda dengan perasaan yang campur aduk, ragu akan semua tindakan yang telah kulakukan, ragu dengan harapan yang terhampar di depan, ragu dengan diri sendiri, ragu dengan apa yang diputuskan, well…apapun itu, untuk ke Jerman dan untuk cita-cita yang hampir terkubur, aku harus, meskipun aku tahu berat untuk menatap wajah Ueda yang akan memohonku untuk tidak pergi.

Aku terus mengetuk, tidak ada jawaban. Kulirik jam tanganku, pukul 4 lebih, tidak seperti yang Ueda harapkan, tapi aku yakin dia tidak akan tidur pada saat ada yang dia ingin bicarakan seperti ini.

“Ueda, ini aku, Hanna, buka pintunya, please” aku terus mengetuk. Sunyi, tidak ada suara, aku mulai khawatir Ueda bisa saja melakukan extreme thing saat dia bingung harus melakukan apa. Berjongkok, aku mengobrak-abrik isi ranselku, mengambil handphoneku, mengaktifkan 3G dan mulai menekan tombol dial untuk nomor Ueda.

Diangkat. Aku langsung berteriak.
“Ueda, buka pintunya, aku mohon” nada suaraku sudah terdengar panic saat dia menjawab.
“sorry, siapa ini?”
“……”

Beberapa saat kemudian pintu depan apartemen Ueda terbuka.
“ini masih pagi eh?” Ueda membuka pintu, memandangku sekenanya, menunuduk lagi dan memalingkan wajahnya.
“aku kehilangan tiketku, aku harap sesuatu yang ingin kau tunjukkan padaku itu tiketku, kumohon Ueda, aku sangat membutuhkannya”
Ueda berpaling padaku dengan pandangan heran.
“tiket eh?” dia bertanya.
“iyah tiketku” aku mulai tak sabar.
“kau akan pergi?” Ueda bertanya, kini pandangan matanya sudah sedemikian menusukku.
“ehm…ehm…iyah” aku salah tingkah, dan mulai kehilangan kata-kata.
“kau berjanji padaku bukan, dan oh thanks God, you lose your ticket, aku senang mendengarnya” Ueda tersenyum kecil padaku yang semakin marah melihat tingkahnya.
“Ueda, aku tidak bercanda, aku ingin tiketku kembali, kumohon” panic akan sikap Ueda yang tidak bisa ditebak, aku mengikutinya berjalan ke arah meja komputernya, sambil terus memohon.
“aku tidak bisa memberikannya, tiket itu tidak ada padaku”

Cukup sudah. Kesabaranku sudah mencapai batasnya.
“Ueda, aku tahu kau tidak akan membiarkanku pergi ke Jerman karena kau memintamu untuk menjagamu, menemanimu di sini, sampai entah kapan itu akan berakhir, tapi mengapa harus aku, ada Diandra dan Sasti yang bisa menemanimu di sini, aku tidak tahu mengapa…” terengah karena berusaha keras menahan tanganku untuk menamparnya, aku melanjutkan berbicara.
“Ueda, please, aku harus ke Jerman, aku mohon beasiswa sekolah fotografi ini sudah lama aku inginkan, aku harus pergi, aku tidak bisa membiarkan impianku ini pergi begitu saja, Ueda aku mohon” kini tanpa sadar aku sudah berlutut dikakinya, memohonnya untuk mengembalikan tiketku.

Menarikku keatas dengan sedikit kasar, dia mencengkeram lenganku kuat-kuat, aku meringis karena menahan sakit, meronta berusaha melepaskan diri, tapi cengkeraman itu terlalu kuat, Ueda terus memandangku tanpa menghiraukan aku telah meronta sedemikian rupa.

“aku tidak menyembunyikan tiketmu, hanya untuk memintamu tetap di sini, aku tidak akan memaksamu melakukannya jika kau tidak menginginkannya” Ueda berbicara, kemudian menunduk, menggigit bibirnya, dengan tangan yang masih mencengkeram lenganku sebegitu kuat.

“Ueda, lepaskan aku, ini sakit” aku momohon.
“tidak, sebelum kau mendengarkan dan mengerti” dia tetap kukuh.
“oke, oke maafkan aku karena telah menuduhmu mengambil tiketku, tapi lepaskan aku, kita bicarakan baik-baik ok” aku mulai tidak bisa tenang berpikir saat lenganku sudah meradang panas dan sakit.

Dia melepaskan sambil sedikit melemparku kebelakang, menggamit tanganku dan menyeretku menuju sebuah kotak. Membukanya dengan satu tanganya yang bebas, dia mengambil kotak berwarna merah marun dan mendorongkannya kearahku.
“aku hanya ingin memberimu ini, tapi mungkin segalanya akan menjadi percuma sekarang” dia melepas tangannya dan pergi meninggalkanku sendirian di depan kotak itu.

Kubuka kotak itu, kemudian yang aku bisa hanya menutup mataku dengan perasaan sangat bersalah.
Menitikkan air mata. Aku mencari Ueda yang berada di dapur, menuangkan kopi ke cangkirnya, berjalan melewatiku, tanpa melihat dan berbicara sepatah katapun kepadaku, seakan aku tidak ada dan tidak terlihat.

Hatiku hancur berkeping-keping saat melihatnya begitu berkorban hanya agar aku bersamanya. Dua tiket ke Jepang untuk kepergian minggu depan, berkeringat pasrah ditanganku yang kelu tak bernyawa.

Tuesday, August 19, 2008

commercial break... just watch !


death note - the last name...
just watch and enjoy L...

Higashi Karatsu-Fukuoka

uedastuki>>>> Hachiko, Shibuya. Fukuoka. Hakata-ku. Okura Hotel , 3-2 >>>>>>>>>>>Shimokawabata-machi. Serena Cafe , Hakata-ekimae 2-18-25. you can found me >>>>>>>>>>>there. ueda
next email.
uedatsuki>>>> Hachiko, Shibuya. Like my last name. Matsuyama. Dōgo Kan 7-26 Dōgo >>>>>>>>>>>Takochō. Dōgo Onsen. Terminal Hotel Matsuyama 9-1 Miyata-chō. JR >>>>>>>>>>>Matsuyama Station . Ueda
next email.
uedatsuki>>>>i hope you are good. hope diandra and his fammily took you well.how was >>>>>>>>>>>Germany?you've met Jason already?send me message.please.Ueda
aku hanya terdiam mendapati puluhan email yang dikirim ueda ke alamat email lamaku setelah sebulan bulan lalu aku memutuskan untuk tidak lagi menggunakannya. yume_hanna. Email ituh dibuat oleh Ueda untukku, dan hanya email itu yang dia tahu. rookiesjerman itulah emailku sekarang.
andai saja ueda tahu aku tidak akan membuka email ini dan menggantinya dengan email yang lain, dia tidak akan berharap sebegini banyak.

Thursday, August 14, 2008

amayadori [ the safest place to hide when its rain]

aku tidak menyangka kejadiannya akan menjadi sebegini sulit untuk merealisasikan sebuah rencana. Aku tahu aku tak akan bisa meninggalkan Ueda, alasannya cukup sederhana sebenarnya, karena sudah ada perasaan lain yang ikut campur dalam urusan persahatanku dengannya bulan-bulan ini, alasan yang lain adalah, dia sudah cukup berkorban dengan datang ke Indonesia, hanya untuk menemuiku.

pertemuan di cafe Kyela sebualan yang lalu juga menjadi kenangan yang tidak biasa antara aku dan dirinya. Kami berpelukan. Oh..tidak itu sudah lebih dari cukup untuk menggambarkan kami berdua adalah sahabat yang saling merindukan. Semua bisikan kecil, semua hembusan nafasnya di telingaku, semua detak jantungnya yang terasa berbeda, semuanya.

Ueda, aku tak mungkin mencintainya. Atas apapun alasan yang nantinya akan ada.Aku hanya sahabatnya, dan kami berenam hanya sahabat, aku, dia dan semuanya adalah sahabat yang diikat karena rasa saling melindungi satu dengan yang lainnya.

Aku beranjak dari atas sofa merah di kamarku, meninggalkan sejenak pikiran yang penuh dengan Ueda akhir-akhir ini. Aku mengambil tas ranselku, merogoh-rogoh mencari lembar tiket pesawat ke Jerman. Iya, aku akan tetap pergi ke Jerman, setelah kupikirkan ternyata aku lebih memilih ke Jerman, walau aku sudah terlanjur mengatakan tidak akan pergi ke Ueda di Cafe itu sebulan yang lalu. Lagipula apa yang akan kukatakan pada diandra dan kedua orang tuaku kalau aku gagal berangkat hanya karena aku harus menemani Ueda di Indonesia untuk waktu yang tidak bisa ditentukan. Oh..aku menepuk kepalaku kuat-kuat. Tiketku HILANG. Habis sudah.Aku melempar tasku dan mulai mencari di meja komputerku, di meja rias, kolong tempat tidur, almari, semuanya, tidak ada, nol besar. Aku sudah menjadi sangat kebingungan ketika handphone berdering.

"Hallo"
"Tampaknya kamu sibuk"
"Ueda"
"Kaget?"
"Ehm tidak, hanya tidak biasanya kamu menelephon pagi buta seperti ini" aku melirik jam dinding, saat itu pukul 3 pagi.
"Bukannya biasanya kita selalu tidak berhenti mengetik sebelum pagi tiba?"
"Bukan, maksudku menelepon, ini khan baru pertama kali"
"Di Indonesia, kita bisa menelepon dengan murah bukan di pagi hari"
"Wew, sudah hapal iklan TV rupanya"
"TV not a good friend, but we indeed need it" Ueda di seberang sana tertawa.
"Ehm Ueda, kamu terbangun malam-malam lagi"
"Tidak, memang sengaja tidak tidur, untuk menelephonmu"
"Mengapa memilih waktu sepagi ini?" aku mulai tidak sabar.
"Karena aku tahu kamu tidak akan tidur sebelum pukul 5, moslem thing huh" Ueda tertawa lagi.
"Ueda, aku capek, aku tidur yah" aku mencoba membuatnya berhenti menelepon karena aku ingin meneruskan mencari tiketku.
"Datanglah ke apartemenku siang ini, aku punya sesuatu yang kamu cari sekarang"
"..."
"Just always know you better than yourself Hanna"
"..."
"Don't mind, just come and see" Ueda menutup telephonya, membiarkan aku dalam kebingungan yang semakin besar.

Dia memiliki sesuatu yang aku cari, apakah dia tahu aku kehilangan tiket, tapi bagaimana bisa, bagaiamana bisa ada padanya, aku memukul kepalaku berulang-ulang, dia tahu aku akan pergi, dia tahu aku akan meninggalkannya, dia tahu semua rencanaku.

Cepat aku mengambil tas ranselku, menutupnya rapat, menjambret jaket tebalku, memakai sepatu dan pergi. Ke apartemen Ueda. Malam itu juga.

Sunday, August 10, 2008

pertemuan sederhana


kami bertemu di Kyela Cafe, di aderah Ciputra hari itu jam 8 tepat waktu Indonesia bagian barat. Ueda masih sama seperti yang dulu, pucat, murung dan tampak lelah. Dia tersenyum saat mengetahui aku datang, sambil membersihkan meja dari beberapa puntung rokok.


"nice to meet you" aku datang tidak mengindahkan sorotan matanya yang heran melihat tidak langsung duduk begitu sampai di mejanya.

"please" dia menambahkan. " I need to talk".

Masih memendam keinginan untuk segera memeluknya, aku tetap berdiri, menundukkan kepalaku. Tak lama kemudian dia pun berdiri. Aku mendongak, melihat wajahnya. Dia lebih pendek dari saat terakhir aku bertemu dengannya.

"I need you to talk" dia menambahkan dengan nada suaranya yang sepertinya memendam sesuatu.

"I'm here because I know you need to talk to me" aku berbicara masih memandang wajahnya, dan dalam keadaan berdiri.

Kami baru pertama kali ini bertemu setelah 6 bulan yang lalu kami hanya bisa berkomunikasi lewat email, telephon, chating di internet, 3G dan beberapa akses teknologi lainnya, yang tidak memungkinkan aku untuk bisa mengukur beberapa telah berubah dari Ueda, termasuk tinggi dan berat badannya.

Aku berharap banyak beberapa hari yang lalu saat Ueda mengirim pesan lewat email bahwa dia akan bertolak ke Indonesia, menemuiku. Something important, katanya waktu itu.

Harapanku adalah bahwa aku bisa berbincang dengan lebih berkualitas dengannya setelah kami merasa ada sesuatu diantara kami saat berkomunikasi lewat teknologi sedemikian lamanya. Aku merasa ganjil dengan tingkah lakunya yang semakin hari semakin tampak tidak sehat. kesukaannya melipat kaki di atas sofa dan tertidur pulas saat kami belum selesai berbicara dengan membiarkan PC atau hanphonenya tetap on line. satu lagi yang membuatku sangat gusar adalah dia tidak henti-hentinya mengambil tisyu untuk menyeka bagian-bagian tubuh yang tidak bisa kulihat dengan jelas lewat web cam atau layar HP. Di dorong keinginan kuat untuk bertanya membuatku ingin segera bertemu dengannya. Tapi sekarang, seakan kami tidak pernah berbincang intim lewat teknologi, dia melihatku seakan aku teman baru yang siap untuk memperkenalkan diri, dan dia, keperluannya denganku hanya untuk bicara seadanya dan kemudian pergi.

Aku tetap terdiam membiarkan Ueda yang terlebih dulu melakukan gerakan.

Tidak ada. Ueda tetap terdiam dengan mata yang tetap tertuju padaku. Aku menjadi rikuh sendiri, ini bukan Ueda. Ueda tidak pernah memandang sesuatu hingga begini lama, pasti ada sesuatu, apakah aku melewatkan satu atau dua kata penting lewat pembicaan kami beberapa waktu lalu, seingatku pembicaan kami tidak pernah terlepas dari curhatan sahabat kental belaka, walau terkadang aku merasa begitu dekat dengannya, tapi tidak ada satupun diantara kami yang terlepas bicara tentang cinta. Dia sahabatku yang memang lebih dari segalanya dimuka bumi, itu saja, tidak lebih. Tapi aku merasa pandangannya kali ini lebih dari itu.

"Sorry, why you looking at me like that?"

"No just amazed, seeing your eyes, last time I know, yours isn't in this blue?"

"I wear my lens", " Look so weird, huh?"

"No, you look good"

"I'm getting tired, can we just sit, and order a cup of tea"

"No, I like when you stand in front of me like this, because I can hug you as tight as I can, may I"

Tanpa menghiraukan gerakanku yang kikuk, Ueda memelukku, masih terasa nafas hangatnya di telingaku saat kusambut pelukan itu.

"Diandra tells me that you will go to Germany", " But I won't let you go".

Seluruh pandangan menatap kami malam itu, tapi karena ada Ueda, segalanya seperti tampak seharusnya. Ueda, apakah dia masih sahabatku saat dia menginginkan ku lebih banyak dibandingkan yang lain, atau karena aku pun menginginkan dia lebih dari seorang teman curhat belaka.

Kubisikkan satu kata ditelinganya .....

"No, I won't"



well that picture is the picture of Kenichi Matsuyama, the one I want to figure Ueda.




Thursday, August 7, 2008

dareka no negai ga kanau koro

memang sulit untuk memutuskan sesuatu, memlih satu diantara dua, apalagi kalau dua-duanya baik.
sehari yang lalu diandra datang menawarkan beasiswa penelitian S2 ke Jerman. Jerman adalah negara impian kedua setelah Amerika yang ingin kudatangani, karena di sana ada Baden-Baden yang Jason ceritakan dengan semangat membara 2 tahun lalu, dan ada Jason...yah ada Jason di sana dengan segala yang menarik tentangnya. Mengingat segala sesuatu tentang Jason membuat aku teringat tentang tawaran menggiurkan untuk jadi istrinya waktu itu, saat kami berdua lulus sekolah menengah kami di Turki, place where I was born.Tertawa dalam hati, aku beranjak menuju lemari biru tua di dekat bed-ku yang hari ini ber-cover bunga-bunga. Kuambil salah satu buku file, sampulnya yang berwarna kuning emas sudah usang dimakan waktu, tapi semoga isinya tetap abadi, di sini, di dalam buku file tua ini, dan di hati semua orang yang namanya tercantum dengan cinta di dalamnya.
Halaman pertama adalah tentang kami, tentang aku, diandra prasetya dewa, jason thomas wellington, matsuyama ueda, wingsasti pramudya, dan seorang lagi yang aku lupa nama lengkapnya, dulu kami suka memanggilnya noel, noel yang pandai, noel yang ceria, noel yang pinter main gitar, well aku masih lupa nama lengkapnya, ehm... tak apalah aku ini memang jahat, dulu noel yang paling rajin datang ke sekolah, tidak pernah absen. Mungkin karena itu aku tidak ingat nama lengkapnya, dia tidak pernah mengirim surat ijin atau menitipkan surat dokter untuk di sampaikan kepada tentor. Tak apalah, siapapun nama lengkap noel, he is the best ever, and the other four.
Konyol sekali, kami meringis karena menahan udara dingin St. Petersburg waktu foto itu diambil, meringis dengan bentuk bibir yang sama. Selagi kami berumur 12 tahun, Jason sudah terlihat paling gagah dan tampan diantara teman laki-laki lain dalam kelompok. Dia yang paling menonjol karena banyak bakat, sama seperti cerita sinetron remaja sekarang, atau cerita komik Jepang, memang cowok ganteng di sekolah tidak akan pernah dilewatkan sebuah cerita, apapun itu, termasuk saat aku mengenang Jason kini, dikamar apartemen kecil di sebuah kota di Indonesia, yang wuff panas sekali.
Jason tetaplah Jason, dan seketika ketika membalik halaman kedua, ada aku dan sasti yang sedang tertawa lepas sambil melempat pucuk-pucuk daun dari pohon ek yang gugur, ke arah noel yang sibuk membenahi posisi kacamatanya. Lucu tapi juga sadis, sampai ingin menangis lagi mengingat betapa menyesalnya aku waktu itu, kacamata noel yang berkali-kali melorot tiba-tiba terjatuh dan pecah. Tamatlah sudah. Noel pulang tanpa kacamata, bibirnya monyong 2 meter kedepan, melirik marah padaku yang melaju kencang diboncengan sepeda Ueda. Ehm..
Ueda, apa lagi yang kuingat dari dia, selain wajahnya yang selalu murung, yang selalu tertunduk, tampak sedih tapi sebenarnya tidak, jarang tersenyum dan malas berbicara banyak. Potongan rambutnya yang sama sekali tidak rapi dan ketinggalan satu langkah dari model rambut anak-anak laki-laki pada umumnya waktu itu. Selalu memakai sweater putih bertuliskan ommoshiroi yang artinya lucu (lawakan). And sure he is just a joke in that time, and always be the matter of joke. Ueda... aku menghela nafas. But you are my heaven on earth, and I adore you so much...
Telephon berdering dan aku beranjak dengan buku file itu masih dipelukan.
"Moshi moshi"
Ueda hatiku tersontak.
"Ueda?"
"Have a time today, just to meet me in the cafe, near of the Ciputra, 8 pm, You know I hate of waiting, thanks"
krek..pip..pip...pip...
masih dalam kekagetan yang sama dan tidak berkurang. Kuletakkan gagang telepon, dan berjalan linglung ke arah bed, meletakkan album file, masih ada Ueda di sana, masih ada kenangan tentang dia, masih ada segalanya tentangnya yang tak akan mungkin dihapus waktu, tentang aku dan dia, tentang suratku padanya seminggu yang lalu. Tentang rencanaku meneruskan kuliah di Jerman, sampai akhirnya diandra menelephon memberitahukan tawaran itu telah terealisasi.
Ueda, for what sake, for everything we've past, I'll come to meet you this 8.

Monday, August 4, 2008

chapter 1-lamunan perawan tua

kopi lagi, kopi lagi, bisa mati kena kanker karena kebanyakan minum kopi. Pertanyaannya sekarang bisakah kopi menyebabkan kanker? tak taulah yang jelas lebih baik minum kopi dari pada pusing ketagihan dan pingsan di tengah jalan.

kemarin malam pekerjaan itu belum selesai juga dikerjakan. Ditumpuk malah bikin gunung derita. melamun di Eagle Spot lagi. menuang kopi dan menunggu pria Jepang itu datang. Sebenarnya setelah ada pria Jepang itu tujuan ke Eagle Spot jadi bertambah satu, menanti kalau2 pria Jepan itu datang lagi.

bisa tidak yah membuat diri menjadi seperti yang diinginkan, misal ini, pengen cantik seperti Tamara Blezensky biar bisa punya pacar bule, ato pinter setengah mati biar kerjaan nggak banyak yang numpuk gini, ato sexy seperti angelina jolie, biar bisa dapetin brad pitt ato melahirkan bayi kembar, apa hubungannya.

sejenak melamun, sejenak berpikir, sejenak yang lain menyeruput kopi istimewa bercampur banana cream yang lembut, huff.

dan...

keluar dari ruang hampa lamunan.

pria Jepan itu datang.

sial mana dandanan lagi ga pantes banget.

owwwwwwwh...shiiiiiiiiiiiiiiiit.

duduk di kursi pas dengan titik horisontal padangan mata. Teknik mengulir rok untuk menghilangkan nervous tidak berhasil. Teknik menggigiti kuku, juga tidak menajur. Memalingkan muka juga malah menambah perasaan ingin menoleh lagi. terlalu indah untuk tidak dipandang.

dan mungkin terlalu menggelikan untuk memperlihatkan bahwa saya sedang sukaaaa sekali memandangnya.

teknik pegang gelas sambil menambah gula...
mengibaskan rambut...

dan

anjriiiiiiiiiiiiit...

mbueeeeeeeeehhhhhhh.......

manis banget....

dan dia pun menoleh. memandang heran ...
berdiri...
berjalan...
ke arah ku...
dan...

omoshiroi ....

hah...



Sunday, July 27, 2008

sesuatu yang tidak bisa saya percaya


apakah dia seorang gay?
tak taulah...
saya sampai sekarang sedang dalam tahap sulit percaya...
nanti saya teruskan lagi...
inih bos minta dibikin surat gugatan...
yang singkat padat jelas katanya...
hayyah.........kono:(

Wednesday, July 16, 2008

well...sudah 2 hari inih menikmati hawa Soerabadja yang tak bersahabat

hahahahahhaha
akhirnya setelah melanglang buana menyusuri gang2 tikus dekat kos2an...
dirikuw bertemu dengan WARNET..
seperti melihat surga...
itu akhirnya bisa menupdate blog...
dan menulis tanpa harus gila karena tidak tersalurkan...
bisa buka FS...
bisa ceting , dr HP mahhhhhhhhhhhhhhhhhhhhallll...
bisa melihat dunia luar...
bisa untuk sejenak tidak bergelut dengan jutaan surat subrogasi... brengsek:(
pengen pulang..kangen ibu, kangen huney, kangen rumah...
intinya tidak ada kasur senyaman kasur di rumah nomer 6 itwuuuuuuuuuuuh:(
GOD, send me back home...I miz my famm so much...